Opini
Opini
VisiNews.net - Rencana penutupan program studi kependidikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan dalih “kejenuhan” merupakan gejala klasik dari kebijakan pendidikan yang ditarik ke orbit teknokratis, yaitu faktor efisiensi, relevansi pasar, dan kalkulasi statistik. Dalam logika ini, prodi kependidikan yang dianggap tidak lagi “produktif” layak dikurangi, digabung, bahkan ditutup. Namun, di sinilah letak persoalan mendasarnya, ketika pendidikan ditundukkan sepenuhnya pada logika pasar, maka yang hilang bukan sekadar program studi, tetapi arah peradaban itu sendiri.
Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul "Menutup Prodi Kependidikan di Era Dunia yang Mencerdaskan Diri: Antara Pragmatisme Kebijakan dan Krisis Kesadaran Peradaban"
Baca selengkapnya di: https://www.visinews.net/opini/2722607722/menutup-prodi-kependidikan-di-era-dunia-yang-mencerdaskan-diri-antara-pragmatisme-kebijakan-dan-krisis-kesadaran-peradaban
VisiNews.net - Semboyan “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara sejatinya merupakan bangunan filosofis yang utuh, sebuah kerangka kepemimpinan pendidikan berbasis keteladanan, partisipasi, dan pemberdayaan. Namun, dalam praktik pendidikan kontemporer, semboyan tersebut mengalami pembekuan makna, semboyannya tetap dihafal, tetapi tidak lagi dioperasionalkan. Semboyannya seringkali hadir sebagai simbol, tetapi absen sebagai sistem. Erosi ini dapat dibaca melalui data empiris yang menunjukkan adanya krisis kualitas sekaligus arah pendidikan.
Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul "Filosofi yang Membeku: Ketika 'Tut Wuri Handayani' Menjadi Slogan"
Baca selengkapnya di: https://www.visinews.net/opini/2722609081/filosofi-yang-membeku-ketika-tut-wuri-handayani-menjadi-slogan
Oleh: Prof. Dr. Made Saihu
ISLAM LIVE – Setiap tahun umat Islam merayakan Idul Adha. Namun pertanyaannya, apakah Idul Adha masih benar-benar hidup dalam kesadaran kita, ataukah hanya tinggal seremoni tahunan yang kehilangan ruh pengorbanannya? Di tengah dunia modern yang dipenuhi kompetisi, pencitraan, kerakusan ekonomi, dan pertarungan ego, Idul Adha seharusnya dibaca bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan momentum perlawanan spiritual terhadap budaya kepemilikan yang berlebihan.
Kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As bukan hanya kisah tentang ayah dan anak. Ini adalah drama tauhid paling besar dalam sejarah manusia, sebuah pertarungan antara cinta kepada Allah dan keterikatan manusia kepada dunia. Secara lahiriah, Ibrahim diperintah menyembelih Ismail. Tetapi secara batiniah, yang sebenarnya diperintahkan Allah untuk “disembelih” adalah rasa kepemilikan, ego, dan kemelekatan yang berlebihan terhadap sesuatu selain-Nya. Hari ini, “Ismail-Ismail” modern hadir dalam bentuk yang jauh lebih kompleks.
Ada yang mempertahankan harta dengan mengorbankan kejujuran. Ada yang mempertahankan jabatan dengan mengorbankan amanah. Ada yang mempertahankan kekuasaan dengan mengorbankan keadilan. Bahkan tidak sedikit yang mempertahankan ego kelompok, fanatisme politik, dan kebencian sosial dengan mengorbankan persaudaraan kemanusiaan. Di sinilah sebenarnya Idul Adha menemukan relevansinya yang paling tajam.
Manusia modern sesungguhnya sedang mengalami krisis pengorbanan. Semua ingin memiliki, tetapi sedikit yang mau memberi. Semua ingin dihormati, tetapi enggan melayani. Semua ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar penderitaan orang lain. Dunia hari ini dipenuhi manusia yang sukses secara material, tetapi miskin secara spiritual. Teknologi berkembang luar biasa, tetapi empati justru mengalami kemunduran. Bahkan media sosial memperlihatkan paradoks besar peradaban kita.
sumber: https://islamlive.id/idul-adha-di-tengah-krisis-ego-dan-hilangnya-empati-sosial/
oleh: Prof. Dr. Made Saihu M. Pd. I.
ISLAM LIVE – Tanggal 1 Juni bukan sekadar momentum historis lahirnya Pancasila, tetapi juga saat yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri, masihkah Pancasila hidup dalam perilaku kita sebagai bangsa?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika Indonesia hari ini menghadapi berbagai persoalan yang tampak semakin kompleks dan mengkhawatirkan. Di tengah kemajuan teknologi dan pembangunan yang terus berjalan, kita justru menyaksikan berbagai gejala krisis sosial yang menggerus sendi-sendi kehidupan berbangsa.
Korupsi masih menjadi penyakit kronis. Konflik sosial dan politik semakin tajam. Ujaran kebencian memenuhi ruang digital. Hoaks dan disinformasi menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat.
Tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, perjudian online, hingga krisis moral di kalangan generasi muda menjadi pemandangan yang sulit diabaikan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bangsa ini sesungguhnya bukan sedang mengalami krisis pembangunan, melainkan krisis nilai. Kita memiliki banyak gedung megah, jalan tol, dan teknologi canggih, tetapi sering kehilangan arah dalam membangun karakter dan peradaban.
Padahal, para pendiri bangsa telah mewariskan Pancasila sebagai kompas moral dan ideologis yang mampu menjaga Indonesia tetap utuh di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya. Pancasila bukan sekadar dokumen kenegaraan, melainkan kristalisasi nilai-nilai luhur yang hidup dalam agama-agama dan kebudayaan Nusantara.
Kita bisa lihat dari sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan bahwa kemajuan bangsa harus dibangun di atas fondasi spiritualitas. Ketika kita kehilangan hubungan dengan Tuhan, maka jabatan berubah menjadi alat keserakahan, kekuasaan menjadi sarana penindasan, dan ilmu pengetahuan kehilangan nilai kemanusiaannya. Karena itu, agama tidak boleh hanya berhenti pada ritual, tetapi harus melahirkan akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
sumber : https://islamlive.id/hari-lahir-pancasila-kembali-menemukan-jiwa-bangsa-di-tengah-kegaduhan-zaman/